Minggu, 23 Juli 2017

Home » Aneka Ragam » Resensi » Kebenaran dan Keteguhan Hati Sebening Kristal

Kebenaran dan Keteguhan Hati Sebening Kristal

3 Februari 2017 - 12:10 WIB Kategori: Resensi 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 147 Kali

Identitas Buku

Judul               : Tentang Kamu

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Republika

Tahun terbit     : Oktober, 2016

Resensiator      : Lailatul Zuhri Indriani

Lagi dan lagi, Tere Liye kembali membuat para pembaca setianya terkagum-kagum. Menjelang akhir tahun 2016, penulis ini kembali meluncurkan novelnya setelah sukses dengan novel Hujan di awal tahun. Kali ini novel dengan judul “Tentang Kamu” siap hadir menemani pembacanya dengan kejutan-kejutan tak terduga. Menariknya, isi novel ini tidak seperti apa yang dibayangkan pembacanya kala membaca judul novel tersebut. Benar-benar berbeda dan mengagumkan.

Kisah ini bermula saat Zaman Zulkarnaen, pemuda asal Indonesia yang bekerja di firma hukum yang paling disegani di Inggris mendapatkan kasus baru. Kasus ini adalah warisan jutaan poundstreling wanita tua Indonesia yang bisa mengalahkan kekayaan Ratu Inggris. Menariknya, wanita tua bernama Sri Ningsih ini hanya mengirimkan surat keterangan bahwa ia memiliki harta kekayaan dan harus diberikan ke ahli waris yang berhak. Hanya itu petunjuk yang dimiliki oleh Zaman, dan ini menjadi tantangannya dalam menyelesaikan kasus tersebut. Tidak ada surat wasiat yang seharusnya menjadi titik terang, Zaman pun pergi ke panti jompo tempat tinggal terakhir Sri dan mendapatkan diary tuanya. Itu menjadi petunjuk berikutnya bagi Zaman dan di sinilah kisahnya bermula.

Ia diutus oleh pimpinan firmanya untuk mencari tahu siapa Sri Ningsih dan bagaimana ia bisa memiliki kekayaan sebesar itu. Maka terbanglah Zaman menuju pulau kecil nan padat penduduk di Indonesia, yaitu Pulau Bungin di Sumbawa. Pulau ini adalah perkampungan nelayan. Bahkan rumah-rumah panggung itu tidak hanya berdiri di atas tanah, melainkan di atas permukaan laut. Hidup mereka sangat memprihatinkan, tapi inilah Bungin. Tempat yang begitu menyenangkan dan menyakitkan bagi seorang Sri Ningsih.

Terlahir piatu karena ibunya Rahayu mengalami kontraksi hebat saat melahirkan, Sri hanya diasuh oleh ayahnya Nugroho. Namun menginjak usia sembilan tahun, ayahnya kembali menikah dengan gadis Bungin bernama Nusi Maratta. Sri bisa beradptasi dengan suasana baru itu hingga lahirnya Tilamuta adik tirinya lahir. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Nugroho meninggal karena kapalnya tenggalam saat hendak menyebrang ke Surabaya membelikan sepatu untuk putrinya. Nusi yang terguncang emosinya menyalahkan Sri sebagai penyebab kematian suaminya dan menjuluki Sri “Anak yang dikutuk”. Sri tidak menaruh dendam kepada ibunya yang tidak bersikap baik kepadanya, yang terpenting ia menjalankan amanahnya untuk menjaga ibu dan adik tirinya. Bahkan ketika Ode, Pak Tua dan Kepala kampung tidak tahan melihat kondisi Sri, gadis itu tetap membela ibunya.

Hingga suatu hari kebakaran hebat di rumah ini terjadi. Sri dengan keluguan dan kerendahan hatinya menerobos bara api yang besar untuk menyelamatkan ibu dan adik tirinya. Malang takdir pada Nusi, ia mati terbakar karena sudah terhimpit potongan papan berapi dan tidak bisa diselamatkan. Hanya Tilamuta yang berhasil diselamatkan Sri. Titik hidup Sri dan Tilamuta berubah. Tuan Guru Bajang menganjurkan mereka untuk sekolah di Madrasah Kiai Ma’sum di Surakarta. Sri dengan senang hati menurutinya karena ia memang mau bersekolah. Maka pergilah ia bersama adiknya dengan bekal seadanya. Itulah penggalan kisah Sri yang mampu diceritakan Ode yang menjadi saksi hidup Sri. Tidak mudah bagi Zaman menemuinya karena pada hari kelima dan hampir putus asa mencari kisah Sri, barulah mereka bertemu.

Zaman kemudian terbang ke Surakarta mencari Madrasah Kiai Ma’sum. Ia menemui seorang Kiai muda yang ternyata adalah anak bungsu Nur’aini. Saat ditunjukkan foto Sri, wanita tua itu terguncang emosinya karena menangis. Terlebih mengetahui Sri telah tiada, dan ia pun tidak segan menceritakan kisah Sri. Kala dua anak malang itu tiba, sambutan keluarga Kiai Ma’sum sangat hangat, bahkan Sri langsung akrab bersahabat dengan Nur’aini, anak bungsu Kiai Ma’sum. Sri sangat menikmati kehidupan madrasah yang telah membuat nasibnya menjadi lebih baik lagi. Bahkan ia kembali mendapatkan sahabat baru, Mbak Lastri yang juga guru di madrasah tersebut.

Kebahagiaan kisah tiga sahabat sejati ini tidak berlangsung lama. Sri dan Nur’aini mendapatkan pengkhianatan dari Lastri. Ia termakan hasutan suaminya Musoh yang cemburu karena suami Nur’aini bernama Arifin seolah merebut posisinya di madrasah. Menantu Kiai Ma’sum itu memang terkenal lebih pandai dibanding Musoh. Kecemburuan itulah yang membuat persahabatan tiga wanita ini retak. Bahkan Musoh dan Lastri yang gelap akan hasutan dan dendam tega menyerang dan membunuh keluarga Kiai Ma’sum. Mereka dibantai secara membabi buta dan banyak para santri yang mati. Kiai Ma’sum, istrinya, cucunya, Nur’aini, dan Arifin diseret dan ditendang ke gudang tebu yang tidak ada ventilasi udara. Kemudian mereka dibakar secara hidup-hidup. Sri yang disekap oleh Lastri sebelum peristiwa itu berhasil melarikan diri dan hanya menemukan Nur’aini dan Arifin yang selamat. Berkat pengakuannya, Lastri diasingkan ke pulau pengasingan karena ulahnya.

Tamat hasil investigasi kedua berdasarkan diary itu. Zaman kemudian menuju Jakarta. Berjalan waktu ke waktu, ternyata akhirnya Sri memutuskan mengadu nasib ke Jakarta. Jatuh bangun ia mencari pekerjaan hingga membangun usaha. Ia selalu mengirimkan surat kepada Nur’aini untuk bertukar cerita. Hingga akhirnya Sri berhasil mendirikan usaha sabun “Rahayu” yang berkembang pesat. Namun usaha ini mendadak dijualnya ke perusahaan dunia yang lebih berkuasa. Cathrine, orang kepercayaannya bahkan tidak pernah tahu apa alasan Sri tiba-tiba menjual perusahaan tersebut. Setelah itu ia menghilang dan tidak ada yang tahu.

Ternyata Sri pergi ke London, kota dimana banyak orang yang melarikan diri dari negaranya dengan berbagai cerita. Begitu pula Sri, ia ingin mehapus masa lalunya yang kelam di Bungin dan Surakarta. Ia menjadi sopir bus tingkat di London dan tinggal di apartemen milik keluarga India. Di kota ini, Sri yang sudah gadis tua itu merasakan jatuh cinta dengan pemuda tampan Turki. Hanya sederhana, pemuda itu jatuh cinta saat menaiki bus yang dibawa Sri. Dari awalnya tidak menyadari, hingga akhirnya Sri memberi respon dan mengajaknya untuk berkenalan dengan keluarganya di apartemen yaitu Aami, ibu Rajendra Khan yang mempunyai apartemen tersebut. Zaman terkejut bukan kepalang karena apartemen miliki temannya Rajendra Khan adalah saksi kehidupan Sri di London. Maka Aami tidak sungkan untuk berbagi cerita tersebut.

Sri begitu menikmati pekerjaannya di London terlebih setelah menikah dengan pemuda Turki bernama Hakan. Namun kebahagiaan itu raib seketika kala kedua anak yang dilahirkan meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Tak lama setelah itu suaminya juga menyusul karena sakit. Sri seperti merasa ia memang anak yang dikutuk. Berusaha keras Aami membujuknya berdamai dengan itu semua. Hingga akhirnya Sri tiba-tiba pergi tanpa pamit dan meninggalkan sepucuk surat. Aami hanya menangis dan tidak tahu kenapa Sri, sopi teladan di Inggris itu tiba-tiba pergi.

Ternyata ia mengasingkan diri di panti jompo agar hidup lebih tenang sampai akhir hayat menjemputnya. Ia adalah penghuni panti yang paling berpengaruh, begitu pendapat Aimee pengasuh panti itu. Dan Batrice, salah satu sahabat Sri di panti memberikan titik terang surat wasiat Sri. Disaat firma hukumnya telah dibatas waktu untuk menyelesaikan kasus ini, muncul rivalnya A&Z Law tiba-tiba membawa ahli waris yang sah, yaitu Tilamuta, Ningrum, dan Murni. Kedua wanita itu mengaku mertua dan istri Tilamuta. Bukan main terkejutnya Zaman karena berdasarkan cerita Nur’aini, Tilamuta tewas saat penyerangan itu. Emosinya benar-benar diuji oleh Ningrum.

Akhirnya Zaman berhasil menemukan surat wasiat itu berdasarkan petunjuk Batrice. Surat itu ada di kotak jati yang diberikan Nur’aini saat ia berkunjung di Surakarta. Maka Zaman berhasil membongkar siapa Ningrum sebenarnya dan menyelamatkan Tilamuta dari kekejaman dendam selama ini. Zaman dengan gagah berani menyampaikan kebenaran ahli waris Sri Ningsih dan bahkan hampir bertaruh nyawa akan hal ini.

Berlatar belakang kisah perebutan harta warisan, Tere Liye mampu mengemas cerita ini menjadi sangat menarik. Suguhan fakta-fakta tentang kasus pewarisan harta dan hal-hal yang harus dihadapi oleh pengacara. Kisah ini bisa membuka bagaimana seseorang mampu menghadapi getirnya hidup dengan memaknai segalanya secara sederhana. Meskipun penulis kerap menerapkan alur maju mundur dalam novelnya, cerita ini tidak membosankan. Kelemahan dalam novel terletak pada kisah pengkhianatan sahabat yang terlalu singkat dan mudah ditebak. Sehingga tidak terlalu menarik perhatian pembaca, padahal pengkhianatan ini adalah salah satu penyebab Sri hidup penuh dengan ketakutan masa lalu.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Apa yang menyebabkan Sri tiba-tiba menjual perusahaannya dan pindah ke negara lain ? Apa yang menjadi ketakutan bagi Sri? Pembaca akan dibuat terkaget-kaget begitu mengetahui klimaks dari novel ini. Bahkan jika produser film sedang membutuhkan ide cerita, novel ini layak untuk diangkat ke layar lebar.

Kebenaran dan Keteguhan Hati Sebening Kristal Reviewed by on . Identitas Buku Judul               : Tentang Kamu Penulis             : Tere Liye Penerbit           : Republika Tahun terbit     : Oktober, 2016 Resensiator    Identitas Buku Judul               : Tentang Kamu Penulis             : Tere Liye Penerbit           : Republika Tahun terbit     : Oktober, 2016 Resensiator    Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3vN

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Komentar

scroll to top