Senin, 21 Agustus 2017

Home » Wawasan » Euforia Petasan dan Kembang Api

Euforia Petasan dan Kembang Api

Oleh: Rika Susanti*

23 Juni 2017 - 1:33 WIB Kategori: Wawasan 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 35 Kali

Ilustrasi: Nindi

gentaandalas.com- Saat bulan ramadhan tiba, intensitas suara petasan dan kembang api semakin meningkat. Tak heran, petasan dan kembang api sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia ketika menyambut datangnya bulan ramadhan dan hari raya idul fitri. Meskipun suara yang dihasilkan dari ledakan petasan seringkali mengagetkan dan mengganggu pendengaran, akan tetapi hal ini bukanlah menjadi suatu alasan bagi sebagian orang untuk tidak membuat kehebohan dengan menyulut petasan dan bermain kembang api. Bahkan ada diantara masyarakat yang menganggap ramadhan akan menjadi kurang berkesan tanpa suara petasan dan percikan kembang api.

Suara ledakan serta percikan api yang dihasilkan oleh petasan akan terlihat sangat menarik dan menawan pada malam hari. Namun sebagian besar orang tidak setuju dengan perayaan yang dihiasi oleh suara petasan. Sebab suara petasan dan percikan api sangat mengganggu dan berbahaya bagi anak-anak dan orang yang berkendaraan.

Petasan dan kembang api merupakan bahan peledak berdaya rendah. Petasan ditemukan sekitar abad ke-9 di Tiongkok,China. Pada awalnya petasan dibuat dari bubuk-bubuk yang dikemas dalam beberapa lapisan kertas dengan sumbu yang menjuntai. Jenis bubuk yang digunakan pada saat itu dibuat dengan mencampurkan garam peter (kalium Nitrat), belerang (sulfur) dan arang dari kayu. Dengan menyulutkan api pada sumbu tersebut, maka reaksi dari campuran bubuk akan menyebabkan terjadinya ledakan. Namun pada saat ini, bahan baku petasan sudah dapat diperoleh dengan mudah di pasaran, sehingga tidak mengherankan lagi pembuatan petasan sudah banyak dilakukan oleh industri rumahan.

Dalam perkembangannya, kembang api akan membuat warna-warna dan bentuk yang menarik di udara. Warna yang dihasilkan merupakan campuran bahan-bahan kimia dalam suatu kubus kecil yang disebut star. Star inilah yang nantinya akan menentukan warna dan bentuk bila kembang api meledak. Warna yang dihasilkan pun bermacam-macam. Warna merah merupakan pencampuran dari litium dan strontium, warna hijau berasal dari barium, warna kuning dari natrium sedangkan warna biru berasal dari tembaga.

Keindahan warna-warni dan pijaran api yang dihasilkan dari kembang api memberikan kesan tersendiri dengan bentuk yang mengagumkan dalam menghiasi langit terutama pada malam hari. Kembang api tersebut seolah terlihat seperti taburan bintang-bintang. Hal inilah yang membuat sebagian besar masyarakat menikmati suasana dan bermain kembang api dalam merayakan malam takbiran idul fitri.

Dalam ilmu fisika sendiri, pembentukan warna dalam kembang api terdiri atas dua mekanisme utama, yaitu incandescence dan luminescene. Pembentukan warna dengan metode incandescene dilakukan dengan proses pemanasan. Cahaya yang dihasilkan dari proses pemanasan ini pada awalnya berupa cahaya inframerah. Perubahan warna akan menjadi semakin menarik seiring bertambahnya panas suatu bahan. Sedangkan pembentukan warna dengan metode luminiscene membutuhkan sumber energi selain panas. Dalam prosesnya energi diserap oleh elektron suatu atom atau molekul sehingga energi atom menjadi tereksitasi dan tidak stabil. Kemudian saat elektron kembali ke energi yang rendah, maka akan terlepas energi dalam bentuk foton (cahaya).

Hal itulah yang membuat suara dan cahaya petasan dan kembang api membuat sensasi yang menyenangkan saat bulan ramadhan dan perayaan lebaran idul fitri. Seringkali kegembiraan akan momen lebaran membuat sebagian orang sering terlupa akan bahaya dari petasan. Bicara tentang bahaya tersebut, setiap tahunnya petasan dan kembang api akan selalu memakan korban luka, bahkan meninggal dunia. Bisa dikatakan petasan dan kembang api merupakan suatu bentuk tindakan yang melanggar keamanan dan kenyamanan publik.

Menanggapi hal tersebut, sudah sepantasnya pemerintah berupaya menertibkan masyarakat dalam menggunakan petasan dan kembang api. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan merazia penjual petasan. Meski demikian, penikmat petasan tidak pernah berkurang karena telah membudaya pada masyarakat. Demi keselamatan dan keamanan dalam menyambut ramadhan dan lebaran idul fitri, sudah sepantasnya tidak harus dirayakan dengan petasan dan kembang api.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Angkatan 2012

 

Editor: Ulfa

 

Euforia Petasan dan Kembang Api Reviewed by on . [caption id="attachment_15001" align="aligncenter" width="600"] Ilustrasi: Nindi[/caption] gentaandalas.com- Saat bulan ramadhan tiba, intensitas suara petasan [caption id="attachment_15001" align="aligncenter" width="600"] Ilustrasi: Nindi[/caption] gentaandalas.com- Saat bulan ramadhan tiba, intensitas suara petasan Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3TV

Tinggalkan Komentar

scroll to top