Jumat, 26 Mei 2017

Home » Wawasan » Cerita di Balik May Day

Cerita di Balik May Day

1 Mei 2015 - 6:52 WIB Kategori: Wawasan 1 Komentar A+ / A- Dilihat: 223 Kali

11186438_10203910179819420_1376979654_nGentaandalas.com-  Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, atau yang lebih dikenal dengan istilah May Day. Mungkin banyak yang tidak mengetahui latar belakang ditetapkannya 1 mei sebagai hari buruh. Nah, kali ini Genta Andalas akan mengupas sejarah lahirnya hari buruh.

Seperti yang dilansir dari Fahreenheat.com, sejarah bermula dari kaum buruh di negara kapitalis Amerika Serikat. Organisasi buruh Amerika Serikat (Federation of Organized Trades and Labor Union), pada tahun 1884 mengesahkan undang-undang (UU) yang mengakui total jam kerja kaum buruh adalah delapan jam, dan itu berlaku bagi semua buruh di Amerika. Namun sayangnya, para pemilik modal menolak delapan jam kerja tersebut.

Hal tersebut memicu kaum buruh untuk melakukan pemogokan umum di seluruh Amerika Serikat. Aksi tersebut dilakukan pada 1 Mei 1886. Lebih dari 350 ribu buruh di seluruh Amerika Serikat terlibat dalam mogok nasional, dengan ratusan ribu buruh bergabung dalam aksi demonstrasi. Dua hari pasca aksi tersebut, 3 Mei, pemogokan terus terjadi di Chicago. Kepolisian Chicago menembakkan peluru tajam ke arah buruh yang tak bersenjata di McCormick Reaper Works, membunuh enam orang buruh dan melukai banyak lainnya. Pembunuhan tersebut menimbulkan gejolak di seluruh negeri terhadap pemerintah dan kebrutalan polisi, buruh-buruh melakukan protes dan demonstrasi di seluruh negeri.

Pada tanggal 4 Mei International Working People Association melancarkan demonstrasi ribuan buruh di Haymarket Square untuk memprotes brutalitas polisi terhadap buruh yang mogok di South Side. Saat orator terakhir memberikan orasinya, dengan menyisakan 200 buruh mengikuti demonstrasi, sekitar 180 polisi bersenjata maju dan membubarkan demonstrasi buruh. Kemudian sebuah bom meledak yang membunuh tujuh orang polisi. Polisi kemudian melepaskan tembakan ke arah para buruh yang tidak bersenjata – jumlah buruh yang terbunuh pada saat itu tidak diketahui hingga sekarang. Delapan orang buruh ditangkap dengan tuduhan “membuat kerusuhan” dan pembunuhan.

Sesuai dengan keputusan Kongres Paris (Juli 1889) dari Internasional Kedua untuk merayakan martir Haymarket, demonstrasi dan pemogokan diselenggarakan di seluruh Eropa dan Amerika. Kaum buruh menuntut delapan jam kerja, kondisi kesehatan yang lebih baik dan tuntutan lainnya yang diajukan oleh International Association of Workers. Bendera berwarna merah diciptakan sebagai simbol yang selalu mengingatkan kaum buruh atas darah yang telah ditumpahkan oleh kaum buruh yang terus tumpah di bawah penindasan kapitalisme.

Peringatan Hari Buruh di Indonesia

Di Indonesia sendiri, Hari Buruh Sedunia pertama kali dirayakan di Surabaya pada 1 Mei 1918, bahkan juga disebut-sebut sebagai perayaan pertama kali di Asia. Perayaan ini diinisiasi Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan dan dihadiri oleh Sneevliet dan Bars dari ISDV. Walaupun pada saat itu hanya menarik orang-orang Eropa dan hampir tidak ada orang-orang Indonesia. Dimulai pada tahun 1918 hingga 1926, gerakan buruh mulai secara rutin dilakukan dan biasanya dibarengi dengan pemogokan umum besar-besaran.

Pada Hari Buruh Sedunia tahun 1921, Tjokroaminoto, ditemani muridnya Soekarno naik ke podium untuk berpidato mewakili Serikat Buruh di bawah pengaruh Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1923, Semaun menyampaikan dalam rapat umum VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) di Semarang untuk melancarkan pemogokan umum. Isu utama yang diangkat adalah delapan jam kerja, penundaan penghapusan bonus sampai janji kenaikan gaji dipenuhi, penanganan perselisihan ditangani oleh satu badan arbitrase independen, dan pelarangan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tanpa alasan. Pada tahun 1926, menjelang rencana pemberontakan PKI melawan kolonialisme Belanda, peringatan Hari Buruh ditiadakan.

Karena pada saat itu, cerita mengenai rencana pemberontakan sudah menyebar dari mulut ke mulut, maka banyak pihak yang menduga peringatan Hari Buruh Internasional sebagai momen pecahnya pemberontakan. Setelah meletus pemberontakan bersenjata pada tahun 1926 dan 1927, peringatan Hari Buruh Sedunia sangat sulit untuk dilakukan. Pemerintah Penjajah Belanda mulai menekan serikat buruh dan melarang mereka untuk melakukan perayaan.

Penetapan Hari Buruh Sebagai Hari libur Nasional

Peringatan Hari Buruh Sedunia kembali mulai diperingati pada tahun 1946. Pada tahun 1948, kendati dalam situasi agresi militer Belanda, perayaan Hari Buruh Sedunia berlangsung besar-besaran. Saat itu, 200 ribu hingga 300 ribu orang membanjiri alun-alun Jogjakarta untuk memperingati Hari Buruh Sedunia. Menteri Pertahanan, Amir Sjarifoeddin, memberikan pidato kepada massa buruh dan rakyat di alun-alun itu. Selain Amir, Menteri Perburuhan dan Sosial Kusnan dan Ketua SOBSI Harjono juga memberi pidato. Hatta dan Panglima besar Jend. Soedirman juga hadir dalam perayaan hari buruh ketika itu. Dan, di tahun 1948, dikeluarkan UU Kerja nomor 12/1948 yang mengesahkan 1 Mei sebagai tanggal resmi hari Buruh. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 dikatakan: “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja”.

Perayaan Hari Buruh Sedunia selama masa Bung Karno berlangsung meriah dan reguler. Namun, sejak Rezim Militer Soeharto naik, perayaan Hari Buruh Sedunia dilarang. Rezim Militer Soeharto menganggap perayaan Hari Buruh Sedunia adalah tindakan subversive, melawan hukum. Demikian Rezim Militer Soeharto hanya mengakui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang didirikan pada 20 Februari 1973 sebagai satu-satunya serikat buruh. Kemudian hari lahir SPSI ditetapkan sebagai Hari Pekerja Nasional, Hari Buruh Sedunia pun dilupakan.

Setelah bertahun-tahun dibungkam, pada tahun 1995 sejumlah buruh yang tergabung dalam Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) kembali merayakan Hari Buruh Sedunia dalam bentuk aksi massa. Inilah perayaan Hari Buruh Sedunia pertama di masa Rezim Militer Soeharto. Sejarah mencatat, perayaan tersebut digelar di dua kota besar, yakni Semarang dan Jakarta. Hari itu para buruh menyerukan tuntutan; kebebasan berserikat, stop intervensi militer (dwi fungsi ABRI) dan upah minimum Rp7.000/hari dari sebelumnya Rp3200/hari di Semarang dan Rp3.600-4.000/hari di Jakarta.

Ketika Rezim Militer Soeharto berhasil digulingkan pada 21 Mei 1998, maka Hari Buruh Sedunia kembali dirayakan. Pada 1 Mei 2015 ini, di Jakarta saja direncanakan akan ada 1 juta buruh turun ke jalan untuk merayakan Hari Buruh Sedunia. (Anes)

Cerita di Balik May Day Reviewed by on . Gentaandalas.com-  Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, atau yang lebih dikenal dengan istilah May Day. Mungkin banyak yang tidak mengeta Gentaandalas.com-  Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, atau yang lebih dikenal dengan istilah May Day. Mungkin banyak yang tidak mengeta Rating:

Permalink : http://wp.me/p52sAd-2ay

Jangan Lewatkan

Komentar (1)

  • www.jinlianka.com

    Je remercie franck afin de l’ouvrage remarquable qu’il peut me
    faire c’est vrai il aurait pu etre un magicien il sait tout
    bravo a lui il n’y en a qu’un c’est franck depannage.

Tinggalkan Komentar

scroll to top