Beranda Laporan Laporan Khusus Bidikmisi Unand Masih Perlu Pembenahan

Bidikmisi Unand Masih Perlu Pembenahan

BidikmisiGentaandalas.com – Program bantuan biaya pendidikan berupa Beasiswa Bidikmisi diberikan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi untuk dapat menempuh  pendidikan  hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Hak yang diterima oleh mahasiswa penerima Bidikmisi haruslah seimbang dengan kewajiban yang dilaksanakan. Namun, hasil evaluasi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kekecewaan pihak Unand terhadap penerima Bidikmisi. Enggannya mahasiswa membayar uang asrama, kelalaian menunaikan kewajiban membuat proposal kegiatan mahasiswa (PKM), capaian standar Indeks Prestasi Komulatif (IPK), serta mengabaikan kewajiban lainnya. Selain itu, isu mengenai status Bidikmisi salah sasaran ikut mewarnai polemik beasiswa yang telah berjalan sejak tahun 2010 di kampus hijau ini.

Dapatkan Hak, Mahasiswa Lalaikan Kewajiban

Sebagai penerima Bidikmisi, mahasiswa Unand diberikan bantuan biaya hidup senilai Rp600.000,00 per bulan yang cair setiap tiga bulan sekali. Dengan bantuan tersebut, mahasiswa dapat melengkapi kebutuhan hidupnya demi memenuhi kebutuhan sosial sebagai mahasiswa.

Dibalik hak yang diterima mahasiswa Bidikmisi, ada kewajiban dan syarat untuk pencairan dana tersebut. Salah satu syarat untuk menerima Bidikmisi di Universitas Andalas (Unand) adalah membuat PKM dan memenuhi standar nilai IPK 2,75. Namun masih ada penerima yang tidak memenuhi syarat ini. Terkait hal ini, Ridho, salah satu penerima Bidikmisi mengatakan tidak ada kejelasan atau imbauan dari pihak kampus.

“Sosialisasi dan informasi ini masih kurang jelas terkait nilai IPK dan pembuatan proposal PKM. Saya melihat banyak di antara penerima Bidikmisi tidak membuatnya,” ujar mahasiswa Jurusan Fisika angkatan 2012 ini.

Me-nanggapi hal ini, Aprisal menegaskan semua penerima Bidikmisi wajib membuat proposal PKM. “Dari awal sudah ditegaskan, jika masih ada yang tidak membuat proposal PKM maka akan dievaluasi dan didata, serta akan diberi sanksi yang tegas terkait hal ini!” tegas Wakil Rektor III Unand tersebut.

Selain diadakannya evaluasi tiap semester, pihak kampus juga meminta masing-masing fakultas melaporkan perkembangan IPK mahasiswanya.

“Selama ini, penurunan IPK penerima Bidikmisi menurun tidak begitu drastis. Kami akan melakukan peninjauan penyebab dan berkonsultasi terhadap mahasiswa tersebut,” jelas Yoserizal, Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan Unand.

Selain membuat proposal dan mempertahankan IPK, penerima Bidikmisi juga diharuskan membayar biaya Asrama. Ketua pengelola asrama, Fajri Usman yang ditemui di kantor asrama mengungkapkan dari total mahasiswa angkatan 2013 dan 2014 masih ada yang belum membayar uang asrama.

“Tahun pertama mahasiswa bidikmisi diharuskan tinggal di asrama. Namun hingga saat ini masih banyak yaang belum membayar, jika dijumlahkan sekitar 2,4 miliyar,” ungkapnya.

Tidak membayarnya mahasiswa yang telah menempati asrama bukan tanpa alasan, salah satu mahasiswa Jurusan Sistem Informasi angkatan 2013 mengaku belum membayar uang asrama karena uang tersebut terpakai untuk keperluan lain. “Dana Bidikmisi telah terpakai untuk membayar kontrakan dan keperluan lainnya. Sehingga uang yang tersisa tidak cukup untuk membayar uang asrama,” ucap mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Mengetahui kondisi ini, Aprisal menegaskan mahasiswa harus sadar dengan kewajibannya. “Uang asrama harus dibayar karena hak dan kewajiban harus seimbang. Uang asrama akan dipakai untuk perbaikan fasilitas di asrama. Seharusnya mahasiswa sadar akan hal itu!” tegasnya.

Lebih lanjut, alumnus Jurusan Ilmu Tanah Unand ini menuturkan, jika mahasiswa tersebut belum membayar uang asrama sampai tenggat waktu yang telah ditetapkan, maka kebijakan Unand akan berlaku berupa sanksi terhadap mahasiswa yang bersangkutan. “Bisa saja ijazah mereka ditahan, atau portal website mahasiswa yang bersangkutan akan ditutup!” sambungnya.

Salah Sasaran, Beasiswa Dicabut

Mahasiswa yang dinyatakan lulus Bidikmisi harus melakukan verifikasi data terlebih dahulu. Setelah dinyatakan lulus ke tahap selanjutnya, maka dilakukan verifikasi lapangan. Apabila lulus tahap ini, maka mahasiswa tersebut dinyatakan berhak menerima Bidikmisi. Setiap tempat tinggal calon penerima Bidikmisi akan disurvei oleh tim Unand. Satu orang tim survei bertanggung jawab terhadap 10-12 calon penerima.

Terkait data yang diverifikasi, mahasiswa harus memenuhi persyaratan, yaitu memiliki salah satu dari tiga kartu yang dikeluarkan pemerintah. Diantaranya Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Apabila salah satu saja sudah dimiliki oleh calon penerima Bidikmisi, maka ia bisa lolos verifikasi,” jelas Destrinita, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kesejahteraan Mahasiswa Unand.

Lebih lanjut, Destrinita menambahkan syarat lain yang harus dipenuhi adalah penghasilan orang tua. Penghasilan untuk satu jiwa dalam suatu keluarga yang bernilai Rp 750.000,- dikalikan dengan jumlah seluruh anggota keluarga. Apabila jumlah penghasilannya kurang dari hasil yang dikalikan, maka calon penerima berhak mendapatkan bidik misi.

“Misalnya dalam satu keluarga ada tiga anggota keluarga, dan penghasilannya kurang dari Rp 2.250.000,- maka berhak menerima Bidikmisi. Apabila lebih, maka tidak berhak menerima bidik misi,” lanjutnya. Syarat ketiga yaitu memiliki Surat Keterangan Kurang Mampu (SKTM).

“Pada tahun 2014 lalu, setelah melakukan verifikasi data dan lapangan, ada dua belas mahasiswa yang tidak lolos tahap tersebut,” ungkap Destrinita.

Hal ini dikarenakan verifikasi data yang membuktikan mahasiswa tersebut tidak layak mendapatkan Beasiswa Bidikmisi.

Terkait hal ini, Ridho meragukan hasil survei Bidikmisi yang telah dilaksanakan. Mahasiswa Jurusan Fisika tersebut mendengar informasi bahwa ada salah seorang mahasiswa yang tidak menggunakan rumah asli, melainkan rumah neneknya. “Padahal rumah calon penerima Bidikmisi bagus, ia pindah ke tempat rumah neneknya yang berkayu saat mengetahui ada tim survei Bidikmisi yang akan datang,” ungkapnya.

Menanggapi mahasiswa yang memanipulasi data, Yoserizal mengatakan akan mencabut Bidikmisinya. “Pernah terdapat hasil survei yang tidak sesuai dengan data yang ada, maka itu langsung ditindaklanjuti oleh Unand, kemudian dialihkan ke sistem pembayaran UKT,” ujarnya.

Daerah yang disurvei seharusnya keseluruhan lokasi, namun yang tidak berjalan tahun lalu adalah daerah Aceh dan Bengkulu. “Semua daerah Sumatera Barat sudah terlaksana, ditambah pula daerah Medan Kota, dan Pulau Jawa,” tambah Destrinnita terkait keakuratan data survei.

Salah satu mahasiswi Unand, Venny Damayanti mengaku status Bidikmisinya dicabut karena ia sendiri yang berniat mencabutnya. Saat mengikuti kegiatan BAKTI 2013, Veny salah paham saat mendengar pengumuman oleh Wakil Rektor III ketika itu, Novesar Jamarun. Ia mendengar ada kuota beasiswa untuk anak yatim piatu. “Menanggapi hal ini, saya langsung melengkapi syarat-syaratnya karena saya merupakan anak piatu,” ungkap Venny.

Selang beberapa minggu, ia terkejut melihat namanya terpampang di fakultas sebagai penerima Bidikmisi. Mengetahui hal ini, Venny berniat mencabut status Bidikmisinya kaena dari awal salah paham terhadap beasiswa yang diurusnya. “Karena dari awal saya tidak pernah mengurus Bidikmisi dan tiba-tiba kejadiannya seperti ini, mending statusnya dicabut saja,” katanya saat ditemui di Labor Matematika Unand, Rabu (06/05).

Menanggapi hal tersebut, Aprisal mengklarifikasi terkait Beasiswa Bidikmisi yang salah sasaran di Unand. Ia mengatakan masih belum ada yang memberikan laporan mengenai ini.

“Jika ada, pihak kampus akan segera menindaklanjuti mahasiswa tersebut. Akan dilakukan kontrol sosial dan akan diberikan sanksi. Bisa saja status Bidikmisinya dicabut, bahkan kemungkinan terburuk mahasiswa yang bersangkutan bisa di Drop Out,” jelasnya.

Sementara di Fakultas Ekonomi, telah ada mahasiswa yang beasiswanya dicabut dan dialihkan ke mahasiswa lain.

“Penerima beasiswa ini tidak datang ke kampus selama satu hingga dua bulan tidak menjalani cuti sementara. Setelah diakukan pengecekan, akhirnya beasiswanya dialihkan ke mahasiswa lain,” terang Wakil Dekan (WD) III Fakultas Ekonomi, Nasri Bachtiar.

Perbandingan dengan PTN Lain

Kriteria untuk penerima Beasiswa Bidikmisi di Universitas Negeri Padang (UNP) mengikuti kriteria yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat. Syahrial, Pembantu Rektor III UNP mengatakan dari tiga ribu mahasiswa yang menerima Beasiswa tersebut, kurang dari 1% tidak tepat sasaran.

“Tindak lanjut mahasiswa penerima beasiswa tersebut diberikan sanksi seperti pencabutan beasiswa,” ungkapnya. Selain itu dilakukan sistem kontrol dari pihak kampus dengan terjun langsung ke lapangan untuk mahasiswa yang bersangkutan.

“Pihak kampus belum mengeluarkan sanksi Drop Out kepada mahasiswa yang melanggar. Kami membiarkan saja mereka melanjutkan perkuliahannya dengan biaya kuliah sesuai level yang ditetapkan. Terkait survei, kami mengunjungi alamat rumah penerima beasiswa tersebut, seperti Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan lain-lain,” ungkap Syahrial, Pembantu Rektor III UNP.

Menilik kampus lain di Sumatera Barat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol merupakan salah satu perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama yang juga menyelanggarakan program Bidikmisi. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Makmur Syarif menjelaskan penerima bidikmisi di PTN ini memiliki satu kriteria yang berbeda yaitu hafal Al-Qur’an.

“Di samping kriteria yang sama dengan Unand dan UNP, di IAIN ini kami mendahulukan mahasiswa yang hafal Al-Qur’an satu juz atau lebih untuk mendapakat beasiswa ini,” jelasnya.

Kewajiban yang dilalaikan penerima Bidikmisi seakan terjadi karena kelonggaran yang diberikan. Evaluasi selama beberapa tahun terakhir dapat dijadikan sebagai ajang introspeksi oleh pihak kampus agar lebih tegas dalam merealisasikan kebijakan. Sehingga pembenahan terhadap progam Bidikmisi Unand dapat berjalan dengan efektif. Dengan begitu, mahasiswa penerima Bidikmisi dapat terus berkarya dan berprestasi.

Tim: Clara, Dhanty, Hisna, Giva, Laila, Lita, Putri, Tania, Ully, Zikra

3 KOMENTAR

  1. Maaf, Kesalahan teknis. Setuju pendapat saudari sonia , bahwasanya bidikmisi Unand perlu diberikan kepada orang yang tepat. Karena masih banyak mahasiswa lain yang membutuhkannya.

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here