Jumat, 26 Mei 2017

Home » Aspirasi » Apa Kabar Pertanian Negaraku?

Apa Kabar Pertanian Negaraku?

Oleh: Ananda Muhammad Hidayah Harahap*

17 Januari 2017 - 4:25 WIB Kategori: Aspirasi 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 88 Kali

1481096194929Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

 Begitulah lirik lagu salah seorang penyanyi di Indonesia. Ada yang perlu di garis bawahi dari lirik lagu tersebut. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Ya, begitulah liriknya. Indonesia terlahir sebagai negara yang berbasis pertanian. Bahkan banyak negara negara asing yang saling berebut untuk mendapatkan rempah-rempah di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Belanda, Portugis dan Jepang pernah menguasai Indonesia demi mendapatkan rempah-rempah tersebut. Keberagaman jenis rempah serta nilai jual yang tinggi di negeri Eropa membuat bangsa asing berbondong-bondong memperebutkan kekuasaan di Indonesia agar dengan mudah mendapatkan rempah- rempah tersebut.

Pada era pemerintahan Presiden Suharto, Indonesia sempat meraih prestasi sebagai negara swasembada pangan dan Presiden Suharto saat itu di undang untuk berpidato di konferensi Food and Agriculture Organization ( FAO). Sektor pertanian yang sempat terseok-seok kala itu berhasil diperbaiki oleh Suharto. Dari semula sebagai negara agraria pengimpor beras terbesar, sejak di jaman pemerintahan Presiden ke II Indonesia tersebut berhasil menghasilkan puluhan juta ton beras dan mencapai swasembada pangan.

Keberhasilan tersebut tidak luput dari dukungan dan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pemuda, mahasiswa, dan sarjana pertanian langsung terjun ke lapangan dalam mewujudkan prestasi tersebut. Pembangunan pembangunan sektor pendukung pertanian dilakukan secara besar besaran. Mulai dari pembangunan pabrik pupuk, pembangunan waduk yang besar dan luas, terciptanya varietas unggul yang toleran terhadap hama wereng pada tanaman padi serta lahan kosong yang luas dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Kondisi pertanian saat ini berbanding terbalik di saat era pemerintahan sosok yang sering disebut sebagai Bapak pembangunan. Indonesia sampai saat ini masih tercatat sebagai negara pengimpor beras. Padahal lahan pertaniannya sangat berpotensi menghasilkan produksi yang tinggi. Petani saat ini pun lebih kreatif dan mampu berinovasi. Hal ini terbukti sampai saat ini, Sumatera Barat mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakatnya bahkan mampu mengirim produksi pangan ke provinsi lain. Kualitas berasnya pun tidak di ragukan lagi, siapa yang tidak kenal dengan beras Solok? Lalu bagaimana dengan daerah provinsi lain?

Coba kita melirik ke daerah di provinsi lain, banyak permasalahan pertanian yang terjadi, seperti kekeringan dan kekurangan lahan untuk di budidaya, tanaman pangan khususnya. Meskipun memang tidak sedikit juga lahan yang kurang subur. Tetapi hal itu bukanlah masalah yang berarti. Karena ilmuwan pertanian mampu memperbaiki struktur tanah dan unsur hara yang terkandung di dalamnya, dan ilmuwan juga mampu membuat varietas unggul yang toleran terhadap masalah kesuburan tanah. Hal terpenting bukanlah masalah kualitas tanah, tetapi masalah lahan yang dewasa ini semakin sempit. Di tambah lagi dengan kebakaran hutan yang sudah menjadi agenda rutin. Tetapi ‘ayah’ seolah menutup mata dan telinga. Negeri yang katanya subur dan kaya akan sumber daya alam kini hanyalah angan-angan. Mungkin sang pemilik kebijakan, sampai saat ini lebih tertarik untuk menanam benih batang besi sebagai pondasi berdirinya gedung-gedung pencakar langit. Dan mungkin lebih menguntungkan atau menjanjikan jika memupuk saham tambang.

Di saat petani menjerit karena lahan yang semakin sempit, di saat jeritan tidak bermuara, dan di saat perjuangan terasa sia-sia, sudah saatnya mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat bersinergis untuk membangun kembali kejayaan Indonesia di sektor pertanian. Karena saat ini rakyat merindukan prestasi swasembada pangan terulang kembali. Rakyat sudah jenuh dengan kondisi impor setiap tahun. Hal ini dapat menambah pengeluaran dana APBN dan menurunkan nilai kurs mata uang Indonesia. Padahal kan negara kita katanya subur.

Sudah saatnya mahasiswa sebagai agen perubahan menjalankan fungsi nya. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bersinergis untuk membangun ketahanan pangan Indonesia yang cukup, atau bahkan lebih dari cukup agar bisa mengekspor dan bisa menambah pendapatan negara. Karena sejatinya perubahan bukan hanya dilakukan satu orang.

           *Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian
Angkatan 2015

Apa Kabar Pertanian Negaraku? Reviewed by on . Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3v4

Tinggalkan Komentar

scroll to top